Jumat, 18 April 2014

Mengenang Kematian Yesus Kristus



Kesaksian Jim Caviezel, Pemeran Yesus Kristus Dalam Film The Passion of The Christ.



Kesaksian ini ditulis pada tanggal 29 Juni 2009, pukul   11:58
Jim Caviezel adalah aktor Hollywood yang memerankan Tuhan Yesus dalam film The Passion of The Christ.


          James Patric Caviezel, Jr lahir 28 September 1968 di Mount Vernon, Washington, Amerika. Dia dari keluarga Katolik yang taat. Dia seorang aktor biasa dengan peran-peran kecil dalam film yang tidak besar. Peran terbaik yang pernah dimainkannya sebelum The Passion of The Christ adalah The Thin Red Line. Jim hanyalah salah satu aktor dari begitu banyak aktor besar yang main dalam film kolosal tersebut.
Dalam Thin Red Line, Jim berperan sebagai prajurit yang berkorban demi menolong teman-temannya yang terluka dan terkepung musuh Dia  berlari memancing musuh ke arah yang lain walaupun ia tahu ia akan mati. Akhirnya musuh pun mengepung dan membunuhnya.  Kharisma kebaikan, keramahan, dan rela berkorbannya ini menarik perhatian Mel Gibson, yang sedang mencari aktor yang tepat untuk memerankan konsep film yang sudah lama disimpannya. Mel  menunggu orang yang tepat untuk memerankannya.
“Saya terkejut suatu hari dikirimkan naskah sebagai peran utama dalam sebuah film besar. Belum pernah saya bermain dalam film besar apalagi sebagai peran utama. Tapi yang membuat saya lebih terkejut lagi adalah ketika tahu peran yang harus saya mainkan. Ayolah…, Dia ini Tuhan, siapa yang bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran Tuhan dan memerankannya? Mereka pasti bercanda.
Besok paginya saya mendapat sebuah telepon, “Hallo ini, Mel”. Kata suara dari telpon tersebut. “Mel siapa?”, Tanya saya bingung. Saya tidak menyangka kalau itu Mel Gibson, salah satu aktor dan sutradara Hollywood yang terbesar. Mel kemudian meminta kami bertemu, dan saya menyanggupinya.
Saat kami bertemu, Mel kemudian menjelaskan panjang lebar tentang film yang akan dibuatnya. Film tentang Tuhan Yesus yang berbeda dari film2 lain yang pernah dibuat tentang Dia. Mel juga menyatakan bahwa akan sangat sulit dalam memerankan film ini, salah satunya saya harus belajar bahasa dan dialek aramik, bahasa yang digunakan pada masa itu.
Dan Mel kemudian menatap tajam saya, dan mengatakan sebuah resiko terbesar yang mungkin akan saya hadapi. Katanya bila saya memerankan film ini, mungkin akan menjadi akhir dari karir saya sebagai aktor di Hollywood.
Sebagai manusia biasa saya menjadi gentar dengan risiko tersebut. Memang biasanya aktor pemeran Yesus di Hollywood, tidak akan dipakai lagi dalam film-film lain. Ditambah kemungkinan film ini akan dibenci oleh sekelompok orang Yahudi yang berpengaruh besar dalam bisnis pertunjukan di Hollywood . Sehingga habislah seluruh karir saya dalam dunia perfilman.
Dalam kesenyapan menanti keputusan saya apakah jadi bermain dalam film itu, saya katakan padanya.
 “Mel apakah engkau memilihku karena inisial namaku juga sama dengan Jesus Christ (Jim Caviezel), dan umurku sekarang 33 tahun, sama dengan umur Yesus Kristus saat Ia disalibkan?”
Mel menggeleng setengah terperengah, terkejut, menurutnya ini menjadi agak menakutkan. Dia tidak tahu akan hal itu, ataupun terluput dari perhatiannya. Dia memilih saya murni karena peran saya di Thin Red Line. Baiklah Mel, aku rasa itu bukan sebuah kebetulan, ini tanda panggilanku, semua orang harus memikul salibnya. Bila ia tidak mau memikulnya maka ia akan hancur tertindih salib itu. Aku tanggung resikonya, mari kita buat film ini!
Maka saya pun ikut terjun dalam proyek film tersebut. Dalam persiapan karakter selama berbulan-bulan saya terus bertanya-tanya, dapatkah saya melakukannya? Keraguan meliputi saya sepanjang waktu. Apa yang seorang Anak Tuhan pikirkan, rasakan, dan lakukan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut membingungkan saya, karena begitu banya referensi mengenai Dia dari sudut pandang berbeda-beda.
Akhirnya hanya satu yang bisa saya lakukan, seperti yang Yesus banyak lakukan,  yaitu lebih banyak berdoa. Memohon tuntunanNya melakukan semua ini. Karena siapalah saya ini memerankan Dia yang begitu besar. Masa lalu saya bukan seorang yang dalam hubungan denganNya. Saya memang lahir dari keluarga Katolik yang taat, kebiasaan-kebiasaan baik dalam keluarga memang terus mengikuti dan menjadi dasar yang baik dalam diri saya.
Saya hanyalah seorang pemuda yang bermain bola basket dalam liga SMA dan kampus, yang bermimpi menjadi seorang pemain NBA yang besar. Namun cedera engkel menghentikan karir saya sebagai atlet bola basket. Saya sempat kecewa pada Tuhan, karena cedera itu, seperti hancur seluruh hidup saya.
Saya kemudian mencoba peruntungan dalam casting-casting, sebuah peran sangat kecil membawa saya pada sebuah harapan bahwa seni peran mungkin menjadi jalan hidup saya. Kemudian saya mendalami seni peran dengan masuk dalam akademi seni peran, sambil sehari-hari saya terus mengejar casting.
Dan kini saya telah berada dipuncak peran saya. Benar Tuhan, Engkau yang telah merencanakan semuanya, dan membawaku sampai di sini. Engkau yang mengalihkanku dari karir di bola basket, menuntunku menjadi aktor, dan membuatku sampai pada titik ini. Karena Engkau yang telah memilihku, maka apapun yang akan terjadi, terjadilah sesuai kehendakMu.
Saya tidak membayangkan tantangan film ini jauh lebih sulit dari pada bayangan saya.
Di make-up selama 8 jam setiap hari tanpa boleh bergerak dan tetap berdiri, saya adalah orang satu-satunya di lokasi syuting yang hampir tidak pernah duduk. Sungguh tersiksa menyaksikan kru yang lain duduk-duduk santai sambil minum kopi. Kostum kasar yang sangat tidak nyaman, menyebabkan gatal-gatal sepanjang hari syuting membuat saya sangat tertekan. Salib yang digunakan, diusahakan seasli mungkin seperti yang dipikul oleh Yesus saat itu. Saat mereka meletakkan salib itu dipundak saya, saya kaget dan berteriak kesakitan, mereka mengira itu akting yang sangat baik, padahal saya sungguh-sungguh terkejut. Salib itu terlalu berat, tidak mungkin orang biasa memikulnya, namun saya mencobanya dengan sekuat tenaga.
Yang terjadi kemudian setelah dicoba berjalan, bahu saya copot, dan tubuh saya tertimpa salib yang sangat berat itu. Dan saya pun melolong kesakitan, minta pertolongan. Para kru mengira itu akting yang luar biasa, mereka tidak tahu kalau saya dalam kecelakaan sebenarnya. Saat saya memulai memaki, menyumpah dan hampir pingsan karena tidak tahan dengan sakitnya, maka mereka pun terkejut, sadar apa yang sesungguhnya terjadi dan segera memberikan saya perawatan medis.
Sungguh, saya merasa seperti setan karena memaki dan menyumpah seperti itu, namun saya hanya manusia biasa yang tidak bisa menahannya. Saat dalam pemulihan dan penyembuhan, Mel datang pada saya. Ia bertanya apakah saya ingin melanjutkan film ini, ia berkata ia sangat mengerti kalau saya menolak untuk melanjutkan film itu. Saya bekata pada Mel, saya tidak tahu kalau salib yang dipikul Tuhan Yesus seberat dan semenyakitkan seperti itu. Tapi kalau Tuhan Yesus mau memikul salib itu bagi saya, maka saya akan sangat malu kalau tidak memikulnya walau sebagian kecil saja. Mari kita teruskan film ini. Maka mereka mengganti salib itu dengan ukuran yang lebih kecil dan dengan bahan yang lebih ringan, agar bahu saya tidak terlepas lagi, dan mengulang seluruh adegan pemikulan salib itu. Jadi yang penonton lihat di dalam film itu merupakan salib yang lebih kecil dari aslinya.
Bagian syuting selanjutnya adalah bagian yang mungkin paling mengerikan, baik bagi penonton dan juga bagi saya, yaitu syuting penyambukan Yesus. Saya gemetar menghadapi adegan itu, karena cambuk yang digunakan itu sungguhan. Sementara punggung saya hanya dilindungi papan setebal 3 cm. Suatu waktu para pemeran prajurit Roma itu mencambuk dan mengenai bagian sisi tubuh saya yang tidak terlindungi papan. Saya tersengat, berteriak kesakitan, bergulingan di tanah sambil memaki orang yang mencambuk saya. Semua kru kaget dan segera mengerubungi saya untuk memberi pertolongan.
Tapi bagian paling sulit, bahkan hampir gagal dibuat yaitu pada bagian penyaliban. Lokasi syuting di Italia sangat dingin, sedingin musim salju, para kru dan figuran harus manggunakan mantel yang sangat tebal untuk menahan dingin. Sementara saya harus telanjang dan tergantung di atas kayu salib, diatas bukit yang tertinggi di situ. Angin dari bukit itu bertiup seperti ribuan pisau menghujam tubuh saya. Saya terkena hypothermia (penyakit kedinginan yang biasa mematikan), seluruh tubuh saya lumpuh tak bisa bergerak, mulut saya gemetar bergoncang tak terkendalikan. Mereka harus menghentikan syuting, karena nyawa saya jadi taruhannya.
Semua tekanan, tantangan, kecelakaan dan penyakit membawa saya sungguh depresi. Adegan-adegan tersebut telah membawa saya kepada batas kemanusiaan saya. Dari adegan ke adegan lain semua kru hanya menonton dan menunggu saya sampai pada batas kemanusiaan saya, saat saya tidak mampu lagi baru mereka menghentikan adegan itu. Ini semua membawa saya pada batas-batas fisik dan jiwa saya sebagai manusia. Saya sungguh hampir gila dan tidak tahan dengan semua itu, sehingga seringkali saya harus lari jauh dari tempat syuting untuk berdoa. Hanya untuk berdoa, berseru pada Tuhan kalau saya tidak mampu lagi, memohon Dia agar memberi kekuatan bagi saya untuk melanjutkan semuanya ini. Saya tidak bisa, masih tidak bisa membayangkan bagaimana Yesus sendiri melalui semua itu, bagaimana menderitanya Dia. Dia bukan sekedar mati, tetapi mengalami penderitaan luar biasa yang panjang dan sangat menyakitkan, baik fisik maupun jiwaNya.
Dan peristiwa terakhir yang merupakan mujizat dalam pembuatan film itu adalah saat saya ada di atas kayu salib. Saat itu tempat syuting mendung gelap karena badai akan datang, kilat sambung menyambung di atas kami. Tapi Mel tidak menghentikan pengambilan gambar, karena memang cuaca saat itu sedang ideal sama seperti yang seharusnya terjadi seperti yang diceritakan. Saya ketakutan tergantung di atas kayu salib itu, di samping kami ada dibukit yang tinggi, saya adalah objek yang paling tinggi, untuk dapat dihantam oleh halilintar. Baru saja saya berpikir ingin segera turun karena takut pada petir, sebuah sakit yang luar biasa menghantam saya beserta cahaya silau dan suara menggelegar sangat kencang (setan tidak senang dengan adanya pembuatan film seperti ini). Dan sayapun tidak sadarkan diri.
Yang saya tahu kemudian banyak orang yang memanggil-manggil meneriakkan nama saya, Saat saya membuka mata semua kru telah berkumpul di sekeliling saya, sambil berteriak-teriak “dia sadar! dia sadar!” (dalam kondisi seperti ini mustahil bagi manusia untuk bisa selamat dari hamtaman petir yang berkekuatan berjuta-juta volt kekuatan listrik, tapi perlindungan Tuhan terjadi di sini).
“Apa yang telah terjadi?” Tanya saya. Mereka bercerita bahwa sebuah halilintar telah menghantam saya di atas salib itu, sehingga mereka segera menurunkan saya dari situ. Tubuh saya menghitam karena hangus, dan rambut saya berasap, berubah menjadi model Don King. Sungguh sebuah mujizat kalau saya selamat dari peristiwa itu.
Melihat dan merenungkan semua itu seringkali saya bertanya, “Tuhan, apakah Engkau menginginkan film ini dibuat? Mengapa semua kesulitan ini terjadi, apakah Engkau menginginkan film ini untuk dihentikan”? Namun saya terus berjalan, kita harus melakukan apa yang harus kita lakukan. Selama itu benar, kita harus terus melangkah. Semuanya itu adalah ujian terhadap iman kita, agar kita tetap dekat padaNya, supaya iman kita tetap kuat dalam ujian.
Orang-orang bertanya bagaimana perasaan saya saat di tempat syuting itu memerankan Yesus. Oh… itu sangat luar biasa… mengagumkan… tidak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Selama syuting film itu ada sebuah hadirat Tuhan yang kuat melingkupi kami semua, seakan-akan Tuhan sendiri berada di situ, menjadi sutradara atau merasuki saya memerankan diriNya sendiri.
Itu adalah pengalaman yang tak terkatakan. Semua yang ikut terlibat dalam film itu mengalami lawatan Tuhan dan perubahan dalam hidupnya, tidak ada yang terkecuali. Pemeran salah satu prajurit Roma yang mencambuki saya itu adalah seorang muslim, setelah adegan tersebut, ia menangis dan menerima Yesus sebagai Tuhannya. Adegan itu begitu menyentuhnya. Itu sungguh luar biasa. Padahal awalnya mereka datang hanya karena untuk panggilan profesi dan pekerjaan saja, demi uang. Namun pengalaman dalam film itu mengubahkan kami semua, pengalaman yang tidak akan terlupakan.
Dan Tuhan sungguh baik, walaupun memang film itu menjadi kontroversi. Tapi ternyata ramalan bahwa karir saya berhenti tidak terbukti. Berkat Tuhan tetap mengalir dalam pekerjaan saya sebagai aktor. Walaupun saya harus memilah-milah dan membatasi tawaran peran sejak saya memerankan film ini.
Saya harap mereka yang menonton The Passion of Jesus Christ, tidak melihat saya sebagai aktornya. Saya hanyalah manusia biasa yang bekerja sebagai aktor, jangan kemudian melihat saya dalam sebuah film lain kemudian mengaitkannya dengan peran saya dalam The Passion dan menjadi kecewa.
Tetap pandang hanya pada Yesus saja, dan jangan lihat yang lain. Sejak banyak bergumul berdoa dalam film itu, berdoa menjadi kebiasaan yang tak terpisahkan dalam hidup saya. Film itu telah menyentuh dan mengubah hidup saya, saya berharap juga hal yang sama terjadi pada hidup anda. Amin.

Yesus  Kristus Mati Dengan Cara Disalib
Penyaliban merupakan sebuah cara penghukuman kuno yang kejam dan menyakitkan. Orang yang dijatuhi hukuman salib mengalami kengerian menjelang kematiannya karena  akan mengalami penyesahan dulu sebelum disalib. Penyesahan dilakukan untuk membuat orang tersebut mati secara pelan-pelan. Pada jaman Romawi penyesahan dilakukan dengan  deraan cambuk. Cambuk Romawi dikenal dengan nama Flagrum.
Flagrum merupakan salah satu alat penyiksaan paling menyakitkan yang pernah dikenal manusia. Flagrum  berupa cambuk pendek yang terbuat dari kulit binatang atau pilinan tali. Pada bagian ujung tali diikatkan sejumlah paku, pecahan kaca, logam kecil atau  tulang binatang yang bergerigi,  agar bisa menembus dalam daging dan mencabik punggung, pantat dan paha korban.  Akibatnya orang yang dicambuk akan mengalami luka yang sangat parah. Bukan hanya kulit,  dagingnya juga tercabik-cabik. Menurut Hukum Yahudi, tradisi penyambukan sebanyak 40 kurang 1 (39 kali).  Setiap kali pencambukan  membuat 25  luka pada kulit. Jadi kalau 39 kali cambukan maka akan ada 975 luka pada kulit. Beberapa pakar mengatakan bahwa luka-luka cabikan tersebut sangat dalam sehingga tulang iga orang yang dicambuk dapat terlihat. Bisa dipastikan sehabis penyesahan orang tersebut akan kehilangan banyak darah.

Kondisi Yesus Kristus Menjelang KematianNya Dari Sisi Medis
  • Penderitaan Yesus Kristus dimulai saat Perjamuan Terakhir. Dari sisi manusiaNya Yesus Kristus mengalami stres berat karena Dia tahu bakal mati dengan cara disalib yang pasti akan mengalami penyiksaan brutal  dengan deraan cambuk.
  • Ketika berdoa di Taman Getsemani Yesus Kristus mengalami tekanan psikis yang  sangat keras  serta perasaan sangat galau sehingga ketika berdoa dikatakan ”peluhNya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan di tanah”. Dalam dunia Kedokteran kondisi ini dikenal sebagai Hematidrosis. Kondisi ini dapat terjadi karena stres yang sangat berat sehingga pembuluh kapiler yang mengalirkan darah ke kelenjar keringat tiba-tiba pecah dan terbuka, lalu membocorkan darah ke  saluran kelenjar keringat yang mengakibatkan keringat keluar becampur dengan darah.
Penderita hematidrosis
                                   

  • Ketika berada di rumah Imam Besar Kayafas yang dipakai sidang Mahkamah Agama untuk mengadili Yesus,  Dia mengalami mengalami penganiayaan yaitu pemukulan pada kepala, di lok-olok dan diludahi. Dari rumah Imam Besar, Yesus dibawa dan dihadapkan kepada Pontius Pilatus. Lalu dibawa lagi ke tempat Herodes, tapi akhirnya dikembalikan kepada Pilatus. Di tempat Pilatus inilah Yesus mengalami penyesahan dengan cara dicambuk. Menurut tradisi Romawi hukuman cambuk dilakukan dengan cambuk bercabang banyak yang ujungnya diberi pengait (Flagrum).  Yesus  dicambuki pada bagian punggung, pantat  dan kaki yang dilakukan oleh para prajurit Rowawi terlatih yang dinamakan Lictor. Kemungkinan Yesus dicambuk dengan Flagrum lebih dari 39 kali karena yang mencabuk Yesus adalah orang Romawi  (bukan orang Yahudi). Jadi mereka bisa dengan sesukanya mencambuki Yesus.  Dipastikan Yesus Kristus mengalami luka-luka berat pada sekujur tubuhnya sehingga membuatNya kehilangan banyak darah.

Flagrum
                                                          

  • Setelah penyesahan, para prajurit Romawi mengenakan mahkota duri di kepala Yesus.  Duri tersebut dibuat dari tanaman berduri yang berasal dari Palestina, namanya Paliurus aculeatus.  Duri ini panjangnya kurang lebih 2,5 Cm.  Duri tersebut kalau sudah kering sangat tajam dan kaku seperti paku.  Ketika mahkota duri itu ditancapkan pada kepala Yesus, otomatis durinya mengenai kulit  kepala dan meniumbulkan pendaharahan hebat. Duri  maut itu sekarang dikenal dengan nama Spina Christy.
Orang terkena Spina Christy
                            

  • Yesus kehilangan banyak darah akibat dicambuki dan diberi mahkota duri. Hal ini mengakibatkan dehidrasi dan pasokan oksigen berkurang. Yesus Kristus kemungkinan besar mengalami kerusakan organ-organ tubuh seperti ginjal, paru-paru,  hati,  jantung, gegar otak, kandung kemih.
Spina Christy
                                         

  • Setelah itu Yesus dibawa berjalan dan dipaksa memikul salib ke Bukit Golgota yang jaraknya 1 kilometer dari rumah Pilatus. Saat itu Yesus  dalam kondisi shock dan sudah sangat lemah.  Salib yang dipikul Yesus beratnya kira-kira 90 kg. Salib yang terbuat dari kayu kasar itu  memperparah luka-luka yang ada di tubuh Yesus akibat pencambukan.
  • Sampai di puncak Bukit Golgota, ketika salib akan ditegakkan, salib itu terjatuh. Dipastikan dada dan muka Yesus membentur tanah dengan sangat keras.  
  • Meskipun Yesus kehilangan  banyak darah dan   semua organ tubuhnya tidak berfungsi, tetapi Yesus tidak mati.  
  • Setelah  Yesus berkata, ” ... Sudah selesai ... dan Dia menundukkan kepalaNya serta  berkata: Ya Bapa,  ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu ”  barulah Yesus mati. 
  •  Ketika mengetahui Yesus telah mati, barulah algojo Romawi menusuk lambung Yesus, dan keluarlah air dan darah.

  • Yesus Kristus mati bukan di tangan algojo Romawi tapi Yesus Kristus mati karena Dia menyerahkan nyawanya kepada Allah Bapa. 
  • Manusia tidak bisa membunuh Yesus Kristus karena Yesus adalah Tuhan, yang memberi nyawa manusia (Yesus Kristus dapat membangkitkan orang yang sudah mati)

Untuk Direnungkan
  • Yesus Kristus mengalami semua penderitaan yang dialami manusia, baik psikis maupun fisik. Yesus Kristus mengalami semua penyakit yang diderita manusia di Bumi.
  • Yesus Kristus yang tidak berdosa rela mati dengan cara yang tragis untuk menebus dosa manusia berdosa yang percaya kepadaNya.

SELAMAT PASKAH. TUHAN YESUS MEMBERKATI.


2 komentar:

  1. Balasan
    1. @eli nurdin : Itu bukan bugil, Dek. Itu adalah adalah cara bangsa Romawi waktu itu memerlakukan orang-orang yang mau dihukum dengan cara disalib.

      Hapus